Postingan

Nirmala Bumantara

Langit senja mengalirkan semburat tembaga, seolah bumi sedang berdoa dalam diam. Di tengah ladang ilalang yang berdesir lirih, gadis itu berdiri seperti titik putih di atas kanvas luka yang luas namanya  Sarasvati , anak dari penjaga langit yang tak pernah disebut dalam buku sejarah. Ia memandang cakrawala yang mulai kelam. Angin meniupkan aroma tanah basah dan getirnya kenangan. Di tangannya tergenggam secarik kain lusuh, warisan ibunya sehelai syal berwarna biru pucat, tenunan tangan dari tempat yang disebut  Bumantara , tempat langit dan bumi menyatu tanpa cela. Tempat yang, kata ibunya, hanya bisa dijangkau oleh mereka yang hatinya tetap  nirmala  murni, bersih, tak terjamah dendam. Ibunya telah pergi sejak angin pertama membawa kabar perang. Bukan perang dengan senjata, melainkan perang sunyi antara manusia dan alam yang lelah. “Jagalah langit di matamu, dan bumi di langkahmu”, begitu pesan terakhir sang ibu, disampaikan dengan napas yang tinggal serpih. ...

Kopi yang Tak Pernah Dingin

Aku masih di sini... Di kursi dan meja yang sama, di sudut kafe biru, bersebelahan dengan jendela berbingkai kayu tua yang pernah kau bilang "Tempat favorit untuk memandangi dunia". Kafe ini belum berubah, langit-langitnya masih didekap lampu temaram, wangi kayu manis dari oven belakang masih menyelinap lembut seperti pelukan yang tak pernah selesai. Hanya cat biru tua yang kian memudar, menemaniku menunggumu. Aku menyusuri jalanan mataku ke luar kaca. Gerimis tipis mengguratkan dunia, memburamkan pandangan, tapi tak menghapus harapanku. Di hadapan jalan basah yang lengang itu, kamu pernah berpamitan. Dengan senyum yang gemetar dan genggaman yang lepas perlahan, kamu beranjak pergi, tapi aku belum selesai. Lalu sekarang aku masih di sini, percaya bahwa kamu akan kembali. Aku datang tiap minggu, memesan secangkir latte favorit kita dan membawa sebongkah ingatan yang amerta dikepala. Barista di sini sudah hafal, mereka selalu menyapaku dengan lirih, seolah ikut menjag...

Sampai Bertemu Lagi

  Hari ini hari pertama aku bertemu dengannya, sosok rupawan yang masih tergambar jelas potret wajahnya dalam memori ingatanku. Untuk seorang pelupa sepertiku, itu sebuah kemajuan besar. Seperti biasanya, aku hanya mampu memandangnya dari sudut yang tak dia ketahui, memang. Aku juga bukan seorang yang suka mengumbar pesona dengan mengajak bercerita atau sekadar berkenalan dengan orang yang baru saja aku lihat. Aku pikir pilihan paling bijak adalah membiarkan waktu berangsur pergi, dan berharap dihari berikutnya kita akan dipertemukan kembali.   Yaa, aku akan selalu berharap seperti itu. Sore tadi, Senin pertama di bulan Juli, aku ingin menuntaskan hajatku untuk berolahraga, setidaknya lari 7 putaran lah untuk membunuh lemak dan pikiran jahat dalam tubuhku. Aku ingat betul, tepat diputaran ke 5 mataku berhasil menemukan sosok indah itu. Ia sedang beristirahat dengan teman-temannya di tepi tribun. Aku tak tahu ia sedang membicarakan apa namun senyumnya saat bergurau dengan...

Kadang yang Kita Takutkan Justru Gerbang Baru

Aku pernah ngerasa dunia terlalu cepat berubah. Temen-temen pindah kota, pindah jurusan, ganti circle, dapat mimpi baru, buka pintu baru. Sementara aku… masih berdiri di titik yang sama, ngerasa ketinggalan kayak film yang udah jalan jauh tapi aku baru klik play sekarang. Awalnya aku menolak perubahan. Aku takut kalau pindah arah, aku bakal nyasar. Takut kalau mulai ulang, orang bilang aku habis gagal. Takut kalau aku berhenti sebentar, aku nggak bakal nyampe tujuan. Tapi semakin aku memaksa diriku tetap di tempat yang sama, semakin aku ngerasa hidup ini sempit dan sesak. Sampai akhirnya aku sadar satu hal sederhana: “kita nggak pernah ditakdirkan untuk menetap di titik yang sama selamanya”. Manusia memang dibuat untuk bergerak. bergeser sedikit, melangkah sepetak, salah belok sesekali, lompat jauh tanpa rencana, dan kadang jatuh tepat di tempat yang justru kita butuhkan. Perubahan bikin takut karena kita nggak kebiasaan melihat diri kita dengan versi yang baru. Padahal mun...

Pulang

Malam itu ditengah keramaian kota, ponselku bergetar, satu pesan masuk dari putriku “Ayah, kapan ayah pulang?”, deg.., perasaanku mulai kacau. Kota besar selalu menjanjikan mimpi yang juga besar. Sejak kecil aku selalu menggantungkan mimpiku pada satu tuju yang besar, dan dikota inilah perjalanan mimpiku dimulai. Sejak lulus S1 aku menginjakkan kaki di kota ini, kota metropolitan, kota penuh harapan tentu juga cobaan. Aku sempat kembali dan berencana untuk menetap di kampung halamanku, Indonesia. Selain itu, aku juga bermaksud untuk melamar dan menikahi kekasih pujaan hatiku, Anastasya. Tak lama kemudian, pernikahan kami berjalan sesuai dengan rencana dan beruntungnya tahun berikutnya kami sudah menimang buah hati, seorang putri kecil yang ku beri nama Ranasya. Hari demi hari kami lewati, begitu banyak cobaan berlalu-lalang, tak henti-henti menimpa kami sehingga aku harus memutuskan untuk kembali merantau ke kota metropolitan ini untuk menafkahi keluarga kecilku. Aku harus meninggalkan...

Hening yang Merubah

  Sudah dua musim hujan berlalu sejak bunga itu terakhir mekar di depan rumah kecil di ujung jalan selatan. Rumah dengan cat kusam yang tak pernah diperbarui. Jendelanya masih sama, menghadap ke timur, tempat matahari menyapa dengan malu-malu setiap pagi. Di balik jendela itu, ia duduk setiap hari. Bukan karena menunggu siapa pun. Bukan pula karena berharap sesuatu datang. Ia hanya... duduk. Tangannya sesekali menyentuh cangkir teh yang kini lebih sering dingin sebelum habis. Ia memutar radio kecil tua yang kadang hanya memutar bisu. Kadang lagu-lagu lama, kadang hanya suara hujan dari frekuensi yang tak jelas. Ada buku di pangkuannya. Bukan untuk dibaca, hanya untuk menenangkan dirinya bahwa waktu bisa dipegang. Meski halaman-halamannya tak pernah dibuka. Orang-orang di seberang jalan kadang menyapa, tapi ia hanya mengangguk, dengan senyum tipis yang sulit dibedakan. Apakah itu sopan santun atau sekadar sisa kebiasaan lama. Tak ada foto di dinding rumahnya, kecuali satu lukisan ke...

Fatamorgana dan Amorfati

Gambar
Dirimu seperti fatamorgana, sebuah ilusi di tengah padang pasir yang membuat aku berpikir akan ada oasis menanti. Kau tiba dengan janji seperti embun pagi. Begitu menyegarkan, memberi harapan bahwa gurun hidupku akan berakhir. Aku percaya padamu. Sungguh, aku percaya. Kita berbincang panjang di malam-malam yang sunyi. Kau menceritakan impianmu dengan mata berbinar, tentang orang-orang yang kau sayangi, juga tentang beban yang kau pikul sendiri. Aku mendengarkan setiap kata, mengoleksi setiap cerita, membangun istana dari kepercayaan. Kau bilang aku adalah tempat teraman untukmu dan aku tetap percaya itu. Kita hanyalah dua daksa dan atma yang saling melengkapi. Aku pikir kita adalah takdir. Aku pikir ini adalah amorfati, sebuah cinta pada takdir yang mempertemukan dua daksa dan atma. Tapi fatamorgana selalu hilang ketika kau mendekat. Suatu hari, tanpa peringatan, kau mulai menjauh. Pelan-pelan, seperti bayangan yang lenyap saat fajar tiba. Aku masih menunggu, berpikir ini han...