Postingan

Tanpa Warna

Aku bingung dengan obsesi orang-orang terhadap warna. Sejak kecil aku hanya terdiam, orang-orang menunjuk ke langit dan berkata "Lihat betapa indahnya langit yang biru itu!" atau memegang buku dan berkata "Warna merah selalu terasa hangat." Aku mengangguk, tersenyum, dan mempercayai bahwa mereka melihat sesuatu yang istimewa. Tapi bagiku, langit dan buku terlihat sama, abu-abu dalam berbagai tingkatan. Ada terang, ada gelap, dan area di antara keduanya. Dulu aku pikir itu normal. Dulu aku pikir semua orang melihat dunia seperti aku. Tapi kemudian di kelas seni, guru mengatakan kepada aku untuk menggambar bunga merah. Aku menggambar bunga dengan pensil abu-abu yang lebih gelap. Guru itu terlihat bingung. Dia tanya, "Mengapa tidak menggunakan cat merah?" "Karena itu sudah merah?" aku tanya balik. Dia tersenyum dengan cara yang aneh, seperti dia berbicara dengan anak yang tidak mengerti hal sederhana. Kemudian dia menjelaskan tentang buta warna. Dia...

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?

Gambar
  Akhir November 2025, wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat diguncang banjir bandang, luapan sungai, dan longsor yang menewaskan ratusan orang dan meninggalkan kerusakan ekonomi bernilai puluhan triliun rupiah. Walaupun BMKG menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem muncul akibat interaksi siklon tropis, gelombang atmosfer, dan konvergensi angin sehingga hujan sebulan “tumpah” dalam waktu kurang dari 24 jam, pertanyaan intinya tetap sama. Jika hujan deras adalah sesuatu yang wajar di Sumatra, mengapa banjir kali ini berubah menjadi tragedi sebesar ini. Murni karena alam, atau karena keteledoran pemerintah? BMKG menegaskan bahwa pemicu banjir dan longsor adalah curah hujan sangat ekstrem di puncak musim hujan, ketika beberapa sistem atmosfer (siklon tropis, konvergensi angin, dan gelombang atmosfer) saling memperkuat. Hujan dengan intensitas tinggi selama lebih dari 24 jam menyebabkan tanah jenuh air dan sungai meluap di banyak titik secara bersamaan.  Namun, menurut Ketu...

Tertinggal dalam Senja

Gambar
  Senja hari itu tak pernah benar-benar berakhir untukku. Ia tak pernah berubah. Langit masih jingga, laut masih setia mendendangkan deburnya, dan pasir masih hangat seperti dulu. Tapi kali ini, tak ada lagi bayanganmu di sampingku. Tak ada tawa yang mengisi jeda di antara suara angin. Yang tersisa hanyalah aku dan kenangan yang tak sempat usai. Aku kembali ke pantai ini, tempat yang dulu jadi surga kecil kita. Tempat di mana kamu, adik kembarku, terakhir kali berdiri dengan mata berbinar. Masih kuingat jelas katamu, "Singapura nggak sejauh itu kok, Kak. Kita tetap kembar, tetap satu jiwa. Aku janji akan mengunjungimu saat liburan nanti". Tapi tak ada yang bisa mempersiapkanku untuk kehilanganmu secepat itu. Hari itu, kita duduk bersisian di atas pasir, menghadap laut. Kamu bercerita tentang beasiswa impianmu itu, tentang universitas yang akhirnya tercapai. Aku hanya tertawa, bangga padamu, walau hatiku sedikit cemas. Aku memilih tinggal di dalam negeri ini, kuliah d...

"Nak, Jadilah Dokter"

"Nak, Jadilah Dokter" Tiga kata itu selalu menghantuiku. Sejak kecil keluargaku memiliki ambisi menjadikanku seorang dokter. Tidak. Bukan karena mereka juga berprofesi yang sama.  Namun impian itu hidup karena mereka melihat sesuatu dalam diriku. Mereka sering bercerita, ketika aku masih kecil, ada banyak hal yang membuat mereka yakin perkembanganku bergerak lebih cepat dibanding anak-anak lain. Dari sanalah muncul anggapan bahwa aku memiliki kemampuan yang berbeda. Anehnya, aku sama sekali tidak merasa terbebani. Melihat usaha dan semangat mereka, aku turut bersemangat meraih profesi dengan jas putih itu. Ibuku seorang guru, dan ia  adalah guru pertamaku dalam segala hal. Ia mendaftarkanku di berbagai bimbingan belajar sejak dini, memstikanku membaca banyak buku, menghafal dan memahami sesuatu yang baru setiap belajar dengannya di setiap malam. Sekali lagi, hal itu tidak pernah membuatku merasa terbebani, justru dari sanalah aku belajar untuk mencintai proses dan usaha yang ...

Satu Jam Terakhir

Kalau kalian tahu waktu hidup kalian tinggal satu jam, apa yang akan kalian lakukan? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sejak pagi. Dokter tadi mengatakannya dengan suara datar, seolah sedang membaca hasil cuaca. Waktuku tinggal menghitung jam. Bukan hari, minggu, bulan bahkan tahun. Melainkan jam. Aku membayangkan banyak hal. Jika aku bisa mengulang waktu, mungkin di satu jam terakhir hidupku, aku akan menghabiskannya bersama anak dan istriku. Duduk di ruang tamu, menonton hal receh di televisi, mendengar tawa kecil yang biasanya kuanggap biasa. Atau mungkin aku akan meminta mereka duduk diam, hanya supaya aku bisa menghafal wajah mereka lebih lama. Atau barangkali aku akan memilih hal yang lebih egois. Menikmati makanan favoritku tanpa menghitung kolesterol, sambil mendengarkan lagu lama yang dulu sering kuputar saat perjalanan pulang kerja. Lagu yang selalu berhasil membuatku lupa betapa capeknya hidup. Atau, mungkin saja aku akan menghabiskannya dengan bercengkrama...

Waktu yang Berbeda

  Pada pagi yang sama, orang-orang berangkat dengan arah yang berbeda. Ada yang melangkah cepat, ada yang tertahan di lampu penyebrangan, ada pula yang berhenti sejenak hanya untuk memastikan sepatu mereka terikat rapi. Di halte itu, aku melihat mereka satu per satu. Seorang laki-laki muda tersenyum lebar sambil menatap layar ponselnya, mungkin barangkali kabar baik baru saja menghampiri. Tak jauh darinya, seseorang duduk diam dengan tas lusuh, matanya kosong, seolah menghitung ulang keputusan-keputusan yang telah ia ambil. Bus datang silih berganti. Ada yang langsung naik, ada yang terlewat, ada pula yang sengaja membiarkannya pergi. Aku pernah bertanya-tanya, kenapa sebagian orang seakan tiba lebih dulu di tujuan. Padahal jarak yang kami tempuh tampak serupa. Namun semakin lama aku berdiri di sana, semakin jelas satu hal bahwa tidak semua orang berangkat pada waktu yang sama. Ada yang harus menunggu hujan reda. Ada yang tersesat lebih dulu sebelum menemukan arah. Ada pula yang me...

Tidak untuk Abadi

Hujan turun terlalu pelan hari itu, seperti tahu ada yang harus diperlambat agar bisa dikenang lebih lama.  Langit menggantung rendah, seolah ikut merunduk pada dua hati yang saling tahu, tapi tak lagi bisa saling sapa. Ada jeda yang terlalu panjang di antara langkah-langkah yang mulai menjauh.  Tak ada kata yang diucap, tapi semuanya terasa terlalu riuh di kepala, semacam gema dari hal-hal yang tak pernah sempat disampaikan.  Bukan karena tak ingin, tapi karena waktu selalu punya cara untuk membuat orang diam bahkan pada saat-saat yang paling penting. Waktu pergi dengan langkah yang pasti, sedangkan aku tetap berdiri, mencoba membekukan waktu lewat ingatan.  Ada hal-hal yang tak bisa dilawan, seperti musim yang berganti atau takdir yang tak berpihak. Mereka bilang, cinta adalah perihal memiliki.  Tapi tak satu pun dari semua ini terasa seperti milik.  Hanya seperi lintasan, rasa itu hanya singgah sebentar, cukup lama untuk membuat hati percaya,...