Kopi yang Tak Pernah Dingin
Aku masih di sini...
Di kursi dan meja yang
sama, di sudut kafe biru, bersebelahan dengan jendela berbingkai kayu tua yang
pernah kau bilang "Tempat favorit untuk memandangi dunia".
Kafe ini belum berubah,
langit-langitnya masih didekap lampu temaram, wangi kayu manis dari oven
belakang masih menyelinap lembut seperti pelukan yang tak pernah selesai. Hanya
cat biru tua yang kian memudar, menemaniku menunggumu.
Aku menyusuri jalanan
mataku ke luar kaca. Gerimis tipis mengguratkan dunia, memburamkan pandangan,
tapi tak menghapus harapanku.
Di hadapan jalan basah yang
lengang itu, kamu pernah berpamitan. Dengan senyum yang gemetar dan genggaman
yang lepas perlahan, kamu beranjak pergi, tapi aku belum selesai. Lalu sekarang
aku masih di sini, percaya bahwa kamu akan kembali.
Aku datang tiap minggu,
memesan secangkir latte favorit kita dan membawa sebongkah ingatan yang amerta
dikepala. Barista di sini sudah hafal, mereka selalu menyapaku dengan lirih,
seolah ikut menjaga rahasia rinduku.
Aku masih menunggu, bukan
karena tak bisa melangkah lagi, tapi karena aku tahu, suatu hari kamu akan
kembali entah dengan langkah yang sama, atau versi dirimu yang telah dewasa dan
selesai berdamai dengan dunia. Kau pernah bilang, "Jika kita memang ditakdirkan,
kita akan bertemu kembali… bahkan di dunia yang tak kita kenal."
Dan aku selalu percaya,
sebelum semesta itu terlalu jauh, sebelum dunia lain menjemput, kamu akan duduk
kembali di hadapanku di kursi berlapis kain biru, menyapa dengan suara yang
membuat detak jantungku ingin menulis beribu puisi tentangmu.
Dan saat itu tiba, aku akan
menyambutmu bukan dengan tanya, tapi dengan senyum yang sudah lama menunggu
untuk kembali utuh. Dan jika hari itu tak pernah datang, biarlah aku dikenang
cukup sebagai seseorang yang pernah menunggumu, dengan cinta yang tak bersyarat
dan secangkir kopi yang tak pernah dibiarkan dingin.
R.U.N
*not based on a true story
Komentar
Posting Komentar