Tertinggal dalam Senja
Senja hari itu tak pernah benar-benar berakhir untukku. Ia tak pernah berubah. Langit masih jingga, laut masih setia mendendangkan deburnya, dan pasir masih hangat seperti dulu. Tapi kali ini, tak ada lagi bayanganmu di sampingku. Tak ada tawa yang mengisi jeda di antara suara angin. Yang tersisa hanyalah aku dan kenangan yang tak sempat usai. Aku kembali ke pantai ini, tempat yang dulu jadi surga kecil kita. Tempat di mana kamu, adik kembarku, terakhir kali berdiri dengan mata berbinar. Masih kuingat jelas katamu, "Singapura nggak sejauh itu kok, Kak. Kita tetap kembar, tetap satu jiwa. Aku janji akan mengunjungimu saat liburan nanti". Tapi tak ada yang bisa mempersiapkanku untuk kehilanganmu secepat itu. Hari itu, kita duduk bersisian di atas pasir, menghadap laut. Kamu bercerita tentang beasiswa impianmu itu, tentang universitas yang akhirnya tercapai. Aku hanya tertawa, bangga padamu, walau hatiku sedikit cemas. Aku memilih tinggal di dalam negeri ini, kuliah d...