Hening yang Merubah

 

Sudah dua musim hujan berlalu sejak bunga itu terakhir mekar di depan rumah kecil di ujung jalan selatan.
Rumah dengan cat kusam yang tak pernah diperbarui.
Jendelanya masih sama, menghadap ke timur, tempat matahari menyapa dengan malu-malu setiap pagi.

Di balik jendela itu, ia duduk setiap hari.
Bukan karena menunggu siapa pun.
Bukan pula karena berharap sesuatu datang.

Ia hanya... duduk.

Tangannya sesekali menyentuh cangkir teh yang kini lebih sering dingin sebelum habis.
Ia memutar radio kecil tua yang kadang hanya memutar bisu.
Kadang lagu-lagu lama, kadang hanya suara hujan dari frekuensi yang tak jelas.

Ada buku di pangkuannya.
Bukan untuk dibaca, hanya untuk menenangkan dirinya bahwa waktu bisa dipegang.
Meski halaman-halamannya tak pernah dibuka.

Orang-orang di seberang jalan kadang menyapa,
tapi ia hanya mengangguk, dengan senyum tipis yang sulit dibedakan. Apakah itu sopan santun atau sekadar sisa kebiasaan lama.

Tak ada foto di dinding rumahnya,
kecuali satu lukisan kecil bergambar dua kursi di pinggir danau.
Pernah suatu waktu, seseorang mengetuk pintunya.
Membawa kabar, atau sekadar ingin tahu apakah ia baik-baik saja.
Tapi pintu itu tak pernah dibuka.

Ia hanya berdiri di balik tirai, diam, menatap bayangan di balik kaca.
Hingga langkah-langkah itu menjauh.
Dan rumah itu kembali sunyi.

Banyak yang bertanya, apakah ia kesepian?
Tapi tak ada yang tahu... bahwa kesepian paling tenang adalah saat seseorang tak lagi mencari suara dari luar dirinya. Tidak perlu mencari validasi, tidak perlu mengetahui gosip-gosip artis atau tetangga dan tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Cukuplah jadi dirimu sendiri. Bukan untuk mengucilkan diri dan hidup dalam kesepian, tapi ketenangan abadi akan datang saat kau mulai mencintai dirimu sendiri.

R.U.N
*not based on a true story

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Warna

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?

"Nak, Jadilah Dokter"