Pulang
Sejak lulus S1 aku menginjakkan kaki di kota ini, kota metropolitan, kota penuh harapan tentu juga cobaan. Aku sempat kembali dan berencana untuk menetap di kampung halamanku, Indonesia. Selain itu, aku juga bermaksud untuk melamar dan menikahi kekasih pujaan hatiku, Anastasya. Tak lama kemudian, pernikahan kami berjalan sesuai dengan rencana dan beruntungnya tahun berikutnya kami sudah menimang buah hati, seorang putri kecil yang ku beri nama Ranasya. Hari demi hari kami lewati, begitu banyak cobaan berlalu-lalang, tak henti-henti menimpa kami sehingga aku harus memutuskan untuk kembali merantau ke kota metropolitan ini untuk menafkahi keluarga kecilku. Aku harus meninggalkan semua orang yang aku cintai, orang tuaku, istriku Anastasya dan si kecil Ranasya, putriku yang waktu itu masih belum genap setahun. Dengan jarak yang hanya bisa ditempuh melalui kapal terbang, membuat semua ini terasa berat diawal, tapi ini aku lakukan tidak ada yang lain hanya demi mereka.
Aku bekerja pada perusahaan ekspor-impor. Pertama datang
kesini posisiku sudah cukup baik dan kini aku menjadi orang kepercayaan
direktur dan 2 bos besarku. Aku selalu pulang tiap 3 atau 4 bulan sekali, tapi
akhir-akhir ini tak jarang aku pulang 6 bulan bahkan setahun sekali. Aku sangat
sibuk sekarang.
Anastasya adalah Guru tetap di salah satu Sekolah Dasar Negeri di kota kami, itulah yang membuat ia tak bisa aku bawa ke sini. Begitupun aku tak bisa dengan mudah meninggalkan pekerjaan ini. Aku telah menyepakati kontrak kerja hingga 5 tahun kedepan di perusahaan ini.
Keadaan semakin rumit kala Ranasya buah hati kami kian beranjak besar. Aku tahu dia butuh sosok ayah didekatnya saat ini. Tentu masa tumbuhnya akan sangat bergantung pada Anastasya, tapi dengan Anastasya yang juga memiliki kesibukan yang tak kalah dariku, aku yakin dia sangat kesepian sekarang.
Seminggu lagi akan datang mitra perusahaan dari jepang, Mereka
datang disaat jadwal cutiku. Dan pada moment ini aku merasa bahwa aku gagal
menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk keluargaku. Aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri.
Langit kemerahan
menyapa ramah dari balik gedung-gedung pencakar langit. Amat indah sebenarnya
jika dalam kesempatan yang berbeda dapat ku nikmati bersama keluarga kecilku,
namun kali ini justru membuatku semakin sakit. Kutatap kembali layar ponselku,
hanya mentap sebuah nomor kontak bertuliskan “kesayanganku”. Sedari tadi aku
belum juga menekan tombol panggilan untuknya.
Langit menggelap, tak
kunjung aku menelponnya, dengan sisa-sisa keberanian, kemudian aku mengetik kalimat
permohonan maafku karena tidak dapat pulang lagi.
“Maaf, ayah belum bisa
pulang lagi akhir bulan ini” tulisku. Kutekan Send kemudian aku menangis
sejadi-jadinya. Aku harap Anastasya dapat mengerti, aku harap ia dapat
menjelaskan dengan lebih baik kepada Ranasya. Aku takut membuat mereka kecewa,
aku benar-benar gagal.
Jika waktu bisa
terulang. Aku ingin sekali dapat memeluk mereka setiap waktu, aku ingin sekali
melihat Ranasya tumbuh secara langsung, menjadi saksi saat dia mulai bisa
berjalan dan berbicara. Ingin menjadi orang pertama yang tahu dia pandai
membaca dan berhitung. Aku ingin sekali melihat itu semua.
Pun dengan Anastasya,
aku ingin sekali berbagi kisah perjalanan
hidup kami bersamanya, tanpa perantara, Tanpa jaringan nirkabel. Dapat
bercerita lalu terlelap dalam pangkuannya. Ahhh hanya itu yang aku ingin
sekarang. Yang dapat aku lalukan sekarang hanyalah sabar dan terus bersabar.
Sembari berharap hidup ini dapat aku perbaiki sebelum semuanya bertambah
runcah. Dalam doaku, aku selalu berharap agar tuhan memberikan kebaikannya
untuk keluarga kecil kami.
Sesaat dalam situasi
ini aku sadar, bahwa uang bukanlah segalanya. Harta dan kekayaan yang aku
dapatkan sekarang percuma tanpa adanya kebahagiaan bersama keluarga. Status
hanya hiasan indah sampul padahal isi bukunya kosong.
Jika diizinkan, aku
ingin pulang, kembali ketempat seharusnya aku hidup. Pulang untuk menjadi ayah
terhebat yang selalu ada untuk buah hatinya. Dan pulang untuk menjadi suami
terbaik yang selalu siaga menjaga istrinya. Aku ingin pulang.
R.U.N
*not based on a true story
Komentar
Posting Komentar