Fatamorgana dan Amorfati
Dirimu
seperti fatamorgana, sebuah ilusi di tengah padang pasir yang membuat aku
berpikir akan ada oasis menanti. Kau tiba dengan janji seperti embun pagi.
Begitu menyegarkan, memberi harapan bahwa gurun hidupku akan berakhir. Aku
percaya padamu. Sungguh, aku percaya.
Kita
berbincang panjang di malam-malam yang sunyi. Kau menceritakan impianmu dengan
mata berbinar, tentang orang-orang yang kau sayangi, juga tentang beban yang
kau pikul sendiri. Aku mendengarkan setiap kata, mengoleksi setiap cerita,
membangun istana dari kepercayaan. Kau bilang aku adalah tempat teraman untukmu
dan aku tetap percaya itu.
Kita
hanyalah dua daksa dan atma yang saling melengkapi. Aku pikir kita adalah
takdir. Aku pikir ini adalah amorfati, sebuah cinta pada takdir yang
mempertemukan dua daksa dan atma.
Tapi
fatamorgana selalu hilang ketika kau mendekat.
Suatu
hari, tanpa peringatan, kau mulai menjauh. Pelan-pelan, seperti bayangan yang
lenyap saat fajar tiba. Aku masih menunggu, berpikir ini hanya ujian. Aku masih
berbisik "tetap di sini," tapi bibir yang mengatakan itu adalah
bibirku sendiri. Suaramu sudah lama menghilang.
"Kita
terlalu lengkara untuk asmaraloka."
Aku
mengatakannya pada sepi, hingga menyadari kebenarannya. Terlalu kompleks,
terlalu berat, terlalu mustahil. Aku mengerti, benar-benar mengerti, tapi
memahami tidak membuat kehilangan menjadi lebih ringan.
Kau
ciptakan renjana sangat bermakna. Namun sayangnya renjana itu berakhir sebagai
nestapa yang tidak bisa disembuhkan. Karena renjana sejati seharusnya bukan
berakhir begini.
Sekarang
aku mengerti bahwa fatamorgana tidak akan pernah nyata, sebanyak apapun yang
aku lakukan. Kau mungkin terlalu megah untuk duniaku, layaknya langit yang
terlalu tinggi untuk tangan ini raih.
Terimakasih
telah menemani, walau sebentar. Terimakasih telah menyelamatkanku dari
kegelapan dunia sara bara milikku, dari kekacauan yang membara dalam hati. Kau
memberiku cahaya, walau itu hanyalah cahaya fatamorgana.
Pergi
dan peluklah semestamu dengan erat. Cari orang yang bisa menjadi amorfati
sejatimu, bukan sekadar fatamorgana yang selalu hilang.
Aku
akan belajar mencintai takdir. Aku akan belajar bahwa kadang amorfati berarti
menerima kenyataan bahwa beberapa orang datang hanya untuk mengajarkan kita
berdamai, bukan untuk tinggal.
Dalam
perihal melupakan, aku akan membiarkan waktu menjadi obatnya. Bukan karena aku ingin
lupa, tapi karena mengingat ini mulai terasa seperti menyiksa diri sendiri.
Jadi, terimakasih fatamorgana. Dan selamat tinggal.
R.U.N

Komentar
Posting Komentar