Nirmala Bumantara
Langit senja mengalirkan semburat tembaga, seolah bumi sedang berdoa dalam diam. Di tengah ladang ilalang yang berdesir lirih, gadis itu berdiri seperti titik putih di atas kanvas luka yang luas namanya Sarasvati , anak dari penjaga langit yang tak pernah disebut dalam buku sejarah. Ia memandang cakrawala yang mulai kelam. Angin meniupkan aroma tanah basah dan getirnya kenangan. Di tangannya tergenggam secarik kain lusuh, warisan ibunya sehelai syal berwarna biru pucat, tenunan tangan dari tempat yang disebut Bumantara , tempat langit dan bumi menyatu tanpa cela. Tempat yang, kata ibunya, hanya bisa dijangkau oleh mereka yang hatinya tetap nirmala murni, bersih, tak terjamah dendam. Ibunya telah pergi sejak angin pertama membawa kabar perang. Bukan perang dengan senjata, melainkan perang sunyi antara manusia dan alam yang lelah. “Jagalah langit di matamu, dan bumi di langkahmu”, begitu pesan terakhir sang ibu, disampaikan dengan napas yang tinggal serpih. ...