Hening yang Merubah
Sudah dua musim hujan berlalu sejak bunga itu terakhir mekar di depan rumah kecil di ujung jalan selatan. Rumah dengan cat kusam yang tak pernah diperbarui. Jendelanya masih sama, menghadap ke timur, tempat matahari menyapa dengan malu-malu setiap pagi. Di balik jendela itu, ia duduk setiap hari. Bukan karena menunggu siapa pun. Bukan pula karena berharap sesuatu datang. Ia hanya... duduk. Tangannya sesekali menyentuh cangkir teh yang kini lebih sering dingin sebelum habis. Ia memutar radio kecil tua yang kadang hanya memutar bisu. Kadang lagu-lagu lama, kadang hanya suara hujan dari frekuensi yang tak jelas. Ada buku di pangkuannya. Bukan untuk dibaca, hanya untuk menenangkan dirinya bahwa waktu bisa dipegang. Meski halaman-halamannya tak pernah dibuka. Orang-orang di seberang jalan kadang menyapa, tapi ia hanya mengangguk, dengan senyum tipis yang sulit dibedakan. Apakah itu sopan santun atau sekadar sisa kebiasaan lama. Tak ada foto di dinding rumahnya, kecuali satu lukisan ke...