Nirmala Bumantara
Langit senja mengalirkan semburat tembaga, seolah bumi sedang
berdoa dalam diam. Di tengah ladang ilalang yang berdesir lirih, gadis itu
berdiri seperti titik putih di atas kanvas luka yang luas namanya Sarasvati, anak dari penjaga langit
yang tak pernah disebut dalam buku sejarah.
Ia memandang cakrawala yang
mulai kelam. Angin meniupkan aroma tanah basah dan getirnya kenangan. Di
tangannya tergenggam secarik kain lusuh, warisan ibunya sehelai syal berwarna biru
pucat, tenunan tangan dari tempat yang disebut Bumantara, tempat
langit dan bumi menyatu tanpa cela. Tempat yang, kata ibunya, hanya bisa
dijangkau oleh mereka yang hatinya tetap nirmala murni,
bersih, tak terjamah dendam.
Ibunya telah pergi sejak
angin pertama membawa kabar perang. Bukan perang dengan senjata, melainkan
perang sunyi antara manusia dan alam yang lelah.
“Jagalah langit di matamu,
dan bumi di langkahmu”, begitu pesan terakhir sang ibu, disampaikan dengan
napas yang tinggal serpih.
Kini, langit telah berubah.
Birunya langka, malamnya tak lagi utuh. Dan Sarasvati, mewarisi penglihatan
langit, sebuah anugerah sekaligus kutukan. Ia bisa melihat luka-luka di
angkasa. Retakan halus, arus hitam, tangisan embun yang tak sempat menjadi
hujan.
Malam itu, ia memutuskan
berjalan menuju tebing tertinggi di utara desa, tempat para leluhur dulu
memanggil angin. Ia hendak memanggil Bumantara, tempat yang telah
lama terputus dari dunia manusia.
Langkahnya ringan tapi
mantap. Di setiap tapak, bunga-bunga ilalang seperti menunduk hormat. Langit di
atasnya seperti menahan napas. Di puncak tebing, ia mengangkat syal ibunya
tinggi-tinggi. Angin mendadak diam. Waktu melambat.
“Aku anak bumi, cucu
langit. Bila cinta tak cukup untuk memulihkan dunia, biarlah tubuhku menjadi
jembatan. Biarlah jiwaku yang terbakar agar angkasa kembali biru.”
Lalu ia melompat.
Namun tubuhnya tak jatuh.
Ia melayang, perlahan seperti debu ringan yang kembali pada cahaya. Dari
tubuhnya menyala semburat putih yang menari, menyatu dengan udara. Syal biru
melingkar di langit, mengalirkan warna ke cakrawala yang kelabu.
Malam itu, untuk pertama
kalinya dalam puluhan tahun, bintang-bintang kembali menyala. Langit
tampak nirmala.
Di desa, anak-anak yang
tertidur terbangun karena mimpi tentang langit yang bicara dalam bahasa cahaya.
Dan dalam setiap bisikan angin sejak malam itu, nama Sarasvati disebut
seperti mantra yang menghidupkan kembali harapan.
Hari berganti, dan angin
tidak lagi berbisik seperti dulu. Desa yang tadinya tenang kini mulai tercoreng
oleh sebuah pertanyaan yang tak terjawab: Di mana Sarasvati? Warga
desa yang dulu hanya mengenalnya sebagai gadis kecil yang bermain dengan
langit, kini memandang ke arah tebing di utara dengan penuh harap. Tapi tebing
itu tetap sunyi. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada suara.
Namun, mereka merasakan
sesuatu yang berbeda. Tanah di sekitar tebing itu mulai berbunga kembali,
meskipun musim kering belum juga berlalu. Pohon-pohon yang layu tiba-tiba
mengeluarkan daun baru. Sebuah keajaiban yang tidak bisa dijelaskan oleh
kata-kata.
Di balik setiap perubahan
itu, di tengah kabut yang mengambang di pagi hari, ada sebuah misteri yang
semakin kuat menggenggam hati mereka. Nama Sarasvati sudah menjadi legenda,
bukan hanya di desa ini, tetapi juga di seluruh penjuru tanah. Lalu, di suatu
malam yang penuh cahaya, sebuah suara merobek keheningan malam.
"Sarasvati..."
Suara itu datang dari
langit. Tertinggi, terjauh, seolah menembus batas dimensi. Seseorang mendengar,
atau lebih tepatnya merasakan, panggilan itu. Bari,
seorang lelaki muda yang sering duduk di bawah pohon beringin, memandang ke
arah langit. Ia merasakan sesuatu yang kuat di dadanya sebuah kekuatan yang
memanggil, sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Bari tidak tahu kenapa,
tapi ia merasa harus pergi ke sana, ke puncak tebing yang pernah menjadi tempat
di mana Sarasvati menghilang. Ia merasakan panggilan itu dengan cara yang tak
dapat dijelaskan, seolah ada bagian dari dirinya yang hilang, dan hanya bisa
ditemukan di sana. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dan meninggalkan rumahnya.
Kakinya bergerak otomatis, seperti ada yang menariknya, mengarahkan langkahnya
ke utara.
Sesampainya di puncak
tebing, Bari merasakan sebuah getaran yang menjalar di tubuhnya. Sebuah energi
yang familiar seperti angin yang membawa kata-kata yang tak terdengar. Namun,
apa yang ia lihat membuat darahnya berdesir dingin.
Di hadapannya, sebuah
pusaran cahaya biru muncul, menyelimuti udara dengan energi yang tak
terlukiskan. Cahaya itu bergerak lembut, seperti gelombang di laut yang tenang,
dan di tengahnya, sosok Sarasvati muncul bukan sebagai tubuh manusia, melainkan
sebagai makhluk yang menyatu dengan angkasa. Tubuhnya berkilauan dengan cahaya,
wajahnya begitu murni, seolah dia adalah perwujudan dari langit dan bumi yang tak
terpisahkan.
Bari terdiam. Mulutnya
kering. Ia ingin memanggil namanya, tapi kata-kata itu terhenti di
tenggorokannya.
"Kenapa kau datang,
Bari?" Sarasvati bertanya dengan suara yang bukan hanya terdengar, tetapi
juga terasa. Suara yang meresap ke dalam jiwanya.
Bari menatapnya, mencoba
mengumpulkan keberanian. "Aku... aku merasakan panggilan. Aku tidak tahu
kenapa, tapi aku harus ke sini. Ada sesuatu yang hilang, dan aku merasa... aku
merasa kau tahu apa itu."
Sarasvati mengangguk
perlahan. Cahaya yang mengelilinginya bergetar lembut, menyatu dengan angin
yang berdesir. "Kau merasakan apa yang dulu hanya bisa dirasakan oleh
mereka yang nirmala, yang menjaga keseimbangan antara bumi dan
langit. Kau adalah penerusnya, Bari. Dunia ini telah kehilangan banyak hal.
Kejujuran, kedamaian, dan cahaya. Dan hanya mereka yang bisa melihat kedalaman
langit yang dapat memulihkan semuanya."
Bari menggigil. "Apa
yang harus aku lakukan?"
Sarasvati tersenyum, namun
senyumnya tidak sama seperti senyuman manusia. Itu lebih seperti senyuman alam
yang tak terjangkau. "Untuk memulihkan dunia, kau harus menemukan Bumantara—tempat
di mana langit dan bumi bertemu dalam harmoni. Dan untuk itu, kau harus melalui
ujian yang lebih berat dari apapun yang pernah kau bayangkan."
Bari terdiam, matanya
terfokus pada cahaya yang semakin terang di hadapannya. Ia tidak tahu mengapa,
tapi saat itu ia merasa siap untuk apa pun yang akan datang. Ia merasakan
sebuah panggilan yang lebih besar daripada dirinya sendiri, sebuah panggilan
untuk menyembuhkan dunia yang terluka.
"Apakah kau akan
menemani aku?" Bari bertanya.
Sarasvati mengangguk.
"Aku akan selalu ada di sampingmu, meskipun tidak dalam bentuk yang kau
kenal. Percayalah, Bari, jalan ini bukanlah jalan yang mudah. Namun, jika kau
memiliki hati yang nirmala, maka cahaya akan selalu ada di
ujungnya."
Cahaya itu mulai memudar,
dan Sarasvati menghilang, meninggalkan Bari di puncak tebing. Namun, kini, ia
tidak merasa sendirian. Di dalam dirinya, ada kekuatan yang baru ditemukan,
sebuah harapan untuk dunia yang telah lama kehilangan arah.
Bari pulang ke desa, bukan
sebagai lelaki muda yang sama, tetapi sebagai seseorang yang telah menerima
takdir yang lebih besar dari dirinya. Setiap langkahnya terasa lebih ringan,
meskipun beban di hatinya tidak pernah lebih berat. Ia tahu, perjalanan ini
baru saja dimulai.
Di suatu malam yang penuh
bintang, ia duduk di bawah pohon beringin, menatap langit yang kembali biru,
seperti yang pernah diimpikan oleh Sarasvati. Ia tahu bahwa jalan ini bukanlah
jalan yang mudah, tapi ia tidak akan lagi berjalan sendirian.
Sarasvati, dalam cahaya
yang samar-samar, selalu ada di sana, di langit, di bumi, dan dalam hatinya.
R.U.N
*not based on a true story
Komentar
Posting Komentar