Kopi yang Tak Pernah Dingin
Aku masih di sini... Di kursi dan meja yang sama, di sudut kafe biru, bersebelahan dengan jendela berbingkai kayu tua yang pernah kau bilang "Tempat favorit untuk memandangi dunia". Kafe ini belum berubah, langit-langitnya masih didekap lampu temaram, wangi kayu manis dari oven belakang masih menyelinap lembut seperti pelukan yang tak pernah selesai. Hanya cat biru tua yang kian memudar, menemaniku menunggumu. Aku menyusuri jalanan mataku ke luar kaca. Gerimis tipis mengguratkan dunia, memburamkan pandangan, tapi tak menghapus harapanku. Di hadapan jalan basah yang lengang itu, kamu pernah berpamitan. Dengan senyum yang gemetar dan genggaman yang lepas perlahan, kamu beranjak pergi, tapi aku belum selesai. Lalu sekarang aku masih di sini, percaya bahwa kamu akan kembali. Aku datang tiap minggu, memesan secangkir latte favorit kita dan membawa sebongkah ingatan yang amerta dikepala. Barista di sini sudah hafal, mereka selalu menyapaku dengan lirih, seolah ikut menjag...