Satu Jam Terakhir

Kalau kalian tahu waktu hidup kalian tinggal satu jam, apa yang akan kalian lakukan?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sejak pagi. Dokter tadi mengatakannya dengan suara datar, seolah sedang membaca hasil cuaca. Waktuku tinggal menghitung jam. Bukan hari, minggu, bulan bahkan tahun. Melainkan jam.

Aku membayangkan banyak hal.

Jika aku bisa mengulang waktu, mungkin di satu jam terakhir hidupku, aku akan menghabiskannya bersama anak dan istriku. Duduk di ruang tamu, menonton hal receh di televisi, mendengar tawa kecil yang biasanya kuanggap biasa. Atau mungkin aku akan meminta mereka duduk diam, hanya supaya aku bisa menghafal wajah mereka lebih lama.

Atau barangkali aku akan memilih hal yang lebih egois. Menikmati makanan favoritku tanpa menghitung kolesterol, sambil mendengarkan lagu lama yang dulu sering kuputar saat perjalanan pulang kerja. Lagu yang selalu berhasil membuatku lupa betapa capeknya hidup.

Atau, mungkin saja aku akan menghabiskannya dengan bercengkrama bersama teman-temanku. Ngobrol hal nggak penting, tertawa keras, pura-pura lupa kalau waktu sedang mengejarku.

Banyak kemungkinan. Atau mungkin terlalu banyak.

Namun nyatanya, kini aku hanya duduk sendirian di kamar yang penuh alat medis ini.

Dindingnya putih. Terlalu putih. Jam di atas pintu berdetak pelan sekaligus kejam. Aku tidak ditemani siapa pun. Tidak ada suara anak kecil berlari. Tidak ada tangan istri yang menggenggam. Tidak ada pesan masuk di ponsel.

Aku coba membuka galeri.

Foto pertama, aku menggendong anakku yang baru lahir. Wajahku terlihat bahagia, bahkan aku masih mengingat sorot matanya saat pertama kali melihatku. Foto berikutnya adalah istriku yang tertawa sambil menutupi wajahnya karena kamera kuarahkan tiba-tiba. Foto-foto lama, sebagian buram, sebagian retak sudutnya.

Aku tersenyum kecil.
Lalu sesaknya datang.

Aku bisa saja memberi tahu mereka. Satu telepon saja cukup. Satu pesan singkat: Aku di rumah sakit. Waktuku tinggal sedikit. Tapi aku tidak melakukannya.

Aku tidak ingin mereka datang dengan wajah panik. Aku tidak ingin melihat istriku menangis di samping ranjang ini. Aku tidak ingin anakku mengingat ayahnya berbaring dengan tubuh lemah bersama selang dan bunyi monitor yang mungkin akan membuatnya trauma.

Biarlah aku saja yang tahu.
Biarlah aku saja yang menanggung sesaknya.

Aku memilih menghabiskan sisa hidupku sendirian, bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak sanggup melihat orang-orang yang kucintai hancur di depanku.

Jam terus bergerak.
Satu jam terakhir ini terasa terlalu panjang dan terlalu singkat sekaligus.

 

Aku selesai membaca tulisan itu dalam diam.

Itulah isi dari selarik kertas yang ditinggalkan ayahku setelah satu jam terakhir hidupnya.

Tanganku gemetar, bukan karena kertasnya, tapi karena baru sekarang aku benar-benar paham. Tulisan ayah masih sama seperti yang kuingat. Hurufnya sedikit miring ke kanan, rapi, seperti orang yang selalu berusaha menenangkan diri meski dunia sedang runtuh.

Ayah bukan tidak ingin ditemani.
Ayah hanya terlalu mencintai kami, sampai memilih menanggung semuanya sendirian. Sampai memutuskan bahwa sesak itu cukup ia rasakan sendiri.

Sejak hari itu, setiap kali seseorang bertanya apa yang akan kulakukan jika hidupku tinggal satu jam, aku tidak lagi menjawab dengan bercanda.

Aku tahu jawabannya.

Aku akan pulang.
Aku akan duduk bersama orang-orang yang kucintai, meski hanya dalam diam.

Karena tidak ada satu pun cinta yang seharusnya menghabiskan satu jam terakhirnya sendirian.
Tidak seperti ayahku.

R.U.N

*not based on a true story

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Warna

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?

"Nak, Jadilah Dokter"