Waktu yang Berbeda
Pada pagi yang sama, orang-orang berangkat dengan arah yang berbeda.
Ada yang melangkah cepat, ada yang tertahan di lampu penyebrangan, ada pula yang berhenti sejenak hanya untuk memastikan sepatu mereka terikat rapi.
Di halte itu, aku melihat mereka satu per satu.
Seorang laki-laki muda tersenyum lebar sambil menatap layar ponselnya, mungkin barangkali kabar baik baru saja menghampiri. Tak jauh darinya, seseorang duduk diam dengan tas lusuh, matanya kosong, seolah menghitung ulang keputusan-keputusan yang telah ia ambil.
Bus datang silih berganti. Ada yang langsung naik, ada yang terlewat, ada pula yang sengaja membiarkannya pergi.
Aku pernah bertanya-tanya, kenapa sebagian orang seakan tiba lebih dulu di tujuan. Padahal jarak yang kami tempuh tampak serupa. Namun semakin lama aku berdiri di sana, semakin jelas satu hal bahwa tidak semua orang berangkat pada waktu yang sama.
Ada yang harus menunggu hujan reda.
Ada yang tersesat lebih dulu sebelum menemukan arah.
Ada pula yang membawa beban lebih berat, sehingga langkahnya tak bisa dipercepat sesuka hati.
Tak ada papan pengumuman yang menjelaskan ini. Dunia hanya bergerak, tanpa memberi penanda siapa yang “tertinggal” dan siapa yang “lebih dulu”. Semua berjalan di jalurnya masing-masing, meski dari kejauhan tampak seperti perlombaan.
Suatu hari, aku berhenti membandingkan jarak tempuhku dengan orang lain. Bukan karena aku sudah sampai, tapi karena aku lelah mengukur peta hidupku dengan peta milik orang lain. Aku mulai memperhatikan langkahku sendiri.
Dan di titik itu, aku mengerti bahwa..
perjalanan bukan tentang siapa yang tiba lebih cepat,
melainkan siapa yang tetap berjalan meski jalannya tidak mudah.
R.U.N
*not based on a true story
Komentar
Posting Komentar