"Nak, Jadilah Dokter"


"Nak, Jadilah Dokter"

Tiga kata itu selalu menghantuiku.

Sejak kecil keluargaku memiliki ambisi menjadikanku seorang dokter.

Tidak. Bukan karena mereka juga berprofesi yang sama. Namun impian itu hidup karena mereka melihat sesuatu dalam diriku. Mereka sering bercerita, ketika aku masih kecil, ada banyak hal yang membuat mereka yakin perkembanganku bergerak lebih cepat dibanding anak-anak lain. Dari sanalah muncul anggapan bahwa aku memiliki kemampuan yang berbeda.

Anehnya, aku sama sekali tidak merasa terbebani. Melihat usaha dan semangat mereka, aku turut bersemangat meraih profesi dengan jas putih itu.

Ibuku seorang guru, dan ia  adalah guru pertamaku dalam segala hal. Ia mendaftarkanku di berbagai bimbingan belajar sejak dini, memstikanku membaca banyak buku, menghafal dan memahami sesuatu yang baru setiap belajar dengannya di setiap malam. Sekali lagi, hal itu tidak pernah membuatku merasa terbebani, justru dari sanalah aku belajar untuk mencintai proses dan usaha yang walau tak mudah pasti akan menghasilkan buah yang dapat kita petik. Aku bahagia setiap kali memenangkan lomba atau meraih peringkat pertama di kelas. Tidak ada yang lebih memuaskan selain melihat senyum bangga di wajah mereka. Hanya mereka yang menghargai setiap pencapaianku, dan selalu menguatkanku setiap kali aku terjatuh.

Sejak kecil dunia medis selalu membuatku terpikat. Aku mempelajarinya jauh sebelum aku benar benar memahami apa yang sedang kupelajari.

Dulu, setiap pulang sekolah ayah selalu mengajakku untuk melewati sebuah universitas yang ternama untuk jurusan kedokterannya. Tak jarang beliau berkata “nak, jurusan kedokteran disini sangat bagus”, kata-kata itu tidak langsung menuju ke inti artinya, tapi aku paham apa yang beliau maksudkan. Dan setiap kali mendengar tentang sulitnya tes masuk jurusan kedokteran disana, semangatku selalu kembali menyala.

Namun semua bayangan itu tiba-tiba berubah. Ayah meninggalkanku dengan janji-janjinya yang tak akan pernah ditepati lagi. Bahkan aku tak sempat mendengarkan ucapan selamat tinggal terakhir darinya. Hari itu hatiku benar-benar hancur seakan tak percaya bahwa ini nyata. Rasanya seperti ditarik keluar dari mimpi indah lalu dilempar ke realita yang sungguh pahit.

Tapi aku tidak berhenti, aku tidak putus asa. Aku masih tetap berusaha menggapai impian kami. Meskipun keluarga kami tak lagi mampu menanggung biayanya, aku tetap berusaha. Aku mulai bekerja sambilan sejak menginjak sekolah menengah atas, mengikuti lomba, mendaftar beasiswa, dan tetap mencoba peluang-peluang yang ada.

Sampai akhirnya aku berhasil.

Setelah melalui ujian yang panjang akhirnya notifikasi email yang ku tunggu-tunggu membawakan berita bahagia.

Aku diterima dengan beasiswa di universitas impianku beserta jurusannya. Aku sangat senang. Hari itu mungkin menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama, senyumku kembali pudar ketika aku sadar bahwa beasiswa yang diberikan hanya untuk tahun pertama perkuliahan. Untuk kedua kalinya aku merasa hatiku benar-benar hancur, seakan dunia runtuh begitu saja.

Dengan berat hati aku menekan tombol ‘Decline’ dan mengikhlaskan beasiswa beserta tawarannya itu. aku berusaha tegar akan semua hal ini, hari-hariku setelahnya terasa berat hingga suatu hari nasihat ayah kembali menghantuiku.

Meskipun aku tidak bisa menjadi tiga kata pertama dalam tulisan ini, aku harus selalu menjadi orang yang legawa dan bersyukur atas semua hal yang terjadi dalam perjalananku. Beliau selalu mengingatkanku untuk mengambil sisi positif yang ada dalam setiap kegelapan.

Sejak saat itu, Aku tidak lagi mengejar tiga kata itu. Tapi aku mulai mengejar apa pun yang membuatku merasa lebih hidup dengan caraku sendiri.

Dan untuk kalian yang sedang merasakan hal yang sama, boleh bersedih tetapi jangan terlalu lama tenggelam dalam kesedihan, segeralah bangkit. Aku percaya dibalik semuanya pasti ada hal yang lebih baik sedang menunggu kalian di depan.

 R.U.N


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Warna

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?