Tanpa Warna
Sejak kecil aku hanya terdiam, orang-orang menunjuk ke langit dan berkata "Lihat betapa indahnya langit yang biru itu!" atau memegang buku dan berkata "Warna merah selalu terasa hangat." Aku mengangguk, tersenyum, dan mempercayai bahwa mereka melihat sesuatu yang istimewa. Tapi bagiku, langit dan buku terlihat sama, abu-abu dalam berbagai tingkatan. Ada terang, ada gelap, dan area di antara keduanya.
Dulu aku pikir itu normal. Dulu aku pikir semua orang melihat dunia seperti aku.
Tapi kemudian di kelas seni, guru mengatakan kepada aku untuk menggambar bunga merah. Aku menggambar bunga dengan pensil abu-abu yang lebih gelap. Guru itu terlihat bingung. Dia tanya, "Mengapa tidak menggunakan cat merah?"
"Karena itu sudah merah?" aku tanya balik.
Dia tersenyum dengan cara yang aneh, seperti dia berbicara dengan anak yang tidak mengerti hal sederhana. Kemudian dia menjelaskan tentang buta warna. Dia bilang mataku tidak bisa membedakan warna dengan benar. Dia bilang duniaku adalah dunia monokrom. Hitam, putih, abu-abu.
Aku merasa aneh mendengarnya. Seperti dia baru saja memberitahu aku bahwa sesuatu yang aku pikir sempurna sebenarnya hanya tipuan.
Setelah itu, aku mulai memperhatikan hal-hal yang tidak pernah aku perhatikan sebelumnya.
Orang-orang memilih pakaian berdasarkan warna. Mereka mengatakan bahwa warna itu mencerminkan kepribadian mereka. "Aku suka kuning karena itu ceria," kata temanku. "Aku pakai hitam karena itu membuat aku terlihat sophisticated," kata yang lain.
Aku tidak mengerti. Pakaian adalah pakaian. Warna adalah warna, atau bukan warna dalam kasusnya. Aku mengenakan apapun yang ada di lemari karena semuanya terlihat sama. Gelap atau terang. Itu saja.
Tapi mereka bisa tahu perbedaannya. Mereka memiliki vocabulary untuk itu. Mereka berbicara tentang "navy versus black" atau "coral versus salmon" seperti itu adalah perbedaan yang jelas. Seperti itu adalah bagian dari identitas mereka.
Aku tidak punya vocabulary itu. Aku tidak punya identitas itu.
Kemudian datang hari di mana aku benar-benar sadar bahwa aku berbeda.
Aku berada di kafe dengan teman-teman, dan mereka semua excited tentang menu baru. "Matcha latte yang hijau itu terlihat sangat aesthetic!" Mereka ambil foto untuk Instagram. Mereka berbicara tentang bagaimana warna itu membuat minuman terlihat lebih segar, lebih sehat, lebih menarik.
Aku pesan kopi hitam. Itu sudah cukup untuk aku.
Teman-temanku melihat ke arahku dengan ekspresi yang aku kenal dengan baik sekarang. Ekspresi yang mengatakan "kamu tidak mengerti." Seperti aku kehilangan sesuatu yang fundamental tentang pengalaman manusia. Seperti aku hidup di dunia yang berbeda dengan mereka.
Dan mungkin aku benar-benar hidup di dunia yang berbeda.
Karena saat mereka berbicara tentang bagaimana "biru mencegah anxiety" atau "merah membuat mereka excited," aku hanya mendengarkan dengan diam. Aku tidak bisa merasakan apapun dari warna itu karena aku tidak bisa melihat warna itu. Aku hanya bisa melihat gradasi abu-abu yang membosankan, yang flat, yang tanpa kehidupan.
Aku mulai merasa seperti aku hidup di film yang hitam putih sementara semua orang lain hidup di film berwarna.
Mereka menikmati sesuatu yang aku tidak bisa pernah nikmati. Mereka terhubung dengan dunia melalui warna, dan aku hanya bisa terhubung melalui bentuk dan tekstur. Itu terasa tidak adil dengan cara yang sangat dalam.
Aku mulai menghindari pembicaraan tentang warna. Ketika orang bertanya "Apa warna favorit kamu?", aku berdusta. "Abu-abu," aku katakan, karena itu aman. Itu netral. Itu tidak membuat aku terlihat aneh.
Tapi di dalam, aku merasa seperti aku berbohong tentang siapa aku. Bagian mana aku yang bisa ku sebut unik dari diriku jika aku saja tidak bisa melihat sesuatu yang semua orang lain anggap sebagai warna dasar?
Bertahun-tahun berlalu dengan cara ini.
Aku belajar untuk hidup dengan keterbatasan itu. Aku belajar untuk tersenyum ketika orang berbicara tentang warna-warna yang indah. Aku belajar untuk mengatakan "Ya, itu pasti cantik" meskipun aku tidak tahu apa yang mereka lihat. Aku menjadi baik dalam acting. Aku menjadi baik dalam menjadi bayangan dari orang-orang normal.
Namun, sejauh apapun aku menutupinya, tetap ada kesedihan yang dalam didiriku. Kesedihan tentang dunia yang tidak pernah bisa aku akses sepenuhnya. Dunia yang semua orang selalu membicarakannya. Seakan aku hanya pemeran bayangan di suatu film.
Kemudian, pada suatu hari yang biasa-biasa saja, sesuatu terjadi.
Aku sedang duduk di taman, dan ada seorang anak kecil yang duduk di sebelahku. Dia memegang crayon merah dan menggambar di kertas. Aku bisa lihat bahwa dia menggambar sesuatu, tapi untuk aku itu hanya goresan gelap pada kertas putih terang.
"Apa itu?" tanyaku.
"Bunga matahari," dia katakan dengan percaya diri yang hanya dimiliki anak-anak kecil.
"Mengapa menggunakan crayon itu?" aku kembali bertanya.
"Karena bunga matahari warnanya kuning, ibu bilang itu melambangkan keceriaan, aku suka warna kuning!" dia mengatakan seolah aku akan mengerti apa yang dia katakan.
Aku tersenyum. Aku mengerti obsesinya. Dia tahu siapa dirinya. Dia tahu apa yang dia sukai. Dia tidak mempertanyakan itu.
Kemudian dia melihat ke arahku dengan cara yang aneh. "Kamu sedih," dia katakan.
"Tidak," aku berbohong. "Hanya sedang berpikir."
"Tidak, kamu sedih," dia melanjutkan. "Wajahmu seperti waktu langit abu-abu dan tidak ada matahari."
Aku terdiam. Anak itu sudah kembali menggambar, tapi kata-katanya tetap menggantung di udara.
Dia benar. Aku sedang sedih. Aku sedang sedih karena aku tidak bisa melihat warna bunga yang dia gambar. Aku sedang sedih karena aku tidak bisa melihat dunia seperti yang dia lihat. Aku sedang sedih karena aku buta, dan tidak ada obatnya.
Malam itu, aku duduk di kamar dan menangis.
Aku menangis karena aku lelah berbohong. Aku lelah berpura-pura. Aku lelah hidup di dunia yang monokrom sementara semua orang lain hidup di dunia yang berwarna.
Aku membuka internet dan mulai mencari tentang buta warna. Apakah mungkin bisa disembuhkan? Atau mungkin ada sesuatu yang bisa dilakukan?
Dan kemudian aku menemukan sesuatu yang membuatku berhenti bersedih. Ada teknologi baru. Ada kacamata yang bisa membantu orang dengan buta warna untuk membedakan warna-warna tertentu. Tidak sempurna, tapi lebih baik daripada apa yang aku miliki sekarang. Kacamata itu tidak terlalu mahal, dan aku bisa membelinya.
Ketika kacamata itu tiba, tanganku gemetar saat aku membukanya.
Ini terlihat seperti kacamata biasa, namun aku tetap coba taruh di wajahku. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berubah. Dunia masih abu-abu.
Tak lama kemudian sesuatu bergeser. Ada nuansa yang aku tidak pernah ku lihat sebelumnya. Aku coba berjalan ke luar rumah. Pohon di depan rumah memiliki sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang hidup di dalamnya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa orang bilang "hijau itu menenangkan."
Langit. Aku lihat langit dan aku mengerti. Ini adalah biru. Ini adalah warna yang semua orang pernah berbicara. Ini adalah warna yang membuat orang merasa tenang dan sedih dan damai semuanya sekaligus.
Aku menangis. Aku benar-benar menangis.
Sekarang hingga bertahun-tahun kemudian, aku masih akan setia mengenakan kacamata itu.
Mereka membantu, tapi mereka juga membuat aku menyadari sesuatu yang lebih besar. Buta warna fisikku bukan masalahnya. Masalahnya adalah aku sudah menghabiskan begitu banyak tahun menyembunyikan diriku. Sudah menghabiskan waktu berpura-pura bahwa aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Sudah menghabiskan energi untuk menjadi bayangan dari orang-orang lain.
Tapi sekarang aku bisa melihat warna. Dan ketika aku bisa melihat warna, aku akhirnya bisa melihat diriku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa melihat dunia dalam warna-warnanya. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melihat diriku sendiri dengan segala kelebihan yang selama ini ku sembunyikan hanya karena aku buta warna.
R.U.N
*not based on a true story
Komentar
Posting Komentar