Tertinggal dalam Senja

 


Senja hari itu tak pernah benar-benar berakhir untukku. Ia tak pernah berubah.
Langit masih jingga, laut masih setia mendendangkan deburnya, dan pasir masih hangat seperti dulu. Tapi kali ini, tak ada lagi bayanganmu di sampingku. Tak ada tawa yang mengisi jeda di antara suara angin. Yang tersisa hanyalah aku dan kenangan yang tak sempat usai.

Aku kembali ke pantai ini, tempat yang dulu jadi surga kecil kita. Tempat di mana kamu, adik kembarku, terakhir kali berdiri dengan mata berbinar. Masih kuingat jelas katamu,

"Singapura nggak sejauh itu kok, Kak. Kita tetap kembar, tetap satu jiwa. Aku janji akan mengunjungimu saat liburan nanti".

Tapi tak ada yang bisa mempersiapkanku untuk kehilanganmu secepat itu.

Hari itu, kita duduk bersisian di atas pasir, menghadap laut. Kamu bercerita tentang beasiswa impianmu itu, tentang universitas yang akhirnya tercapai. Aku hanya tertawa, bangga padamu, walau hatiku sedikit cemas.
Aku memilih tinggal di dalam negeri ini, kuliah di kota kecil yang dekat dengan rumah, dekat dengan Ibu. Sementara kamu… memilih langit yang lebih tinggi.

“Kita tetap akan menikmati senja bareng lagi kok kak”, katamu waktu itu.
Aku mengangguk lega. Tapi ternyata hari itu adalah senja terakhir bagi kita.

Pesawat yang membawamu pergi… tak pernah sampai.
Dan aku…, aku masih tertinggal disini. Bukan hanya di bumi yang berbeda darimu, tapi juga di waktu yang berhenti saat aku mendengar kabar itu.

Hari-hari setelahnya bak kabut yang tak kunjung usai. Aku jadi asing dengan diriku sendiri. Tiap senja datang, aku memilih menutup mata, agar tak melihat bayanganmu memudar. Tapi hari ini, aku memutuskan untuk datang ke sini lagi. Duduk di tempat yang sama. Bersandar pada luka yang tak akan sembuh.

Aku menatap laut yang luas, berharap bisa melihatmu di balik cakrawala.

“Apa kamu baik-baik saja di sana?”, aku selalu mempertanyakannya.

Suara itu nyaris tak terdengar. Hanya angin laut yang mendengarnya. Dan mungkin, kamu juga.

Aku memeluk lututku, mengingat semua tawa kita, lagu favorit yang kita nyanyikan di pantai, topi kamu yang selalu hilang terbawa ombak, dan caramu menenangkanku, “Jangan sedih, kak. Kamu punya aku.”.

Tapi kini, aku hanya punya kenangan dan senja yang tetap datang tanpa hadirmu.

Aku menutup mata. Dalam gelap itu, aku bisa melihat senyummu. Masih ceria dan hangat.
Namun entah kenapa, walau sesak itu masih ada, aku merasa bahwa kamu tidak pernah benar-benar pergi. Kamu hanya pulang mendahuluiku. Ke tempat yang lebih tinggi, dan mungkin… ke langit yang kamu kejar sejak kecil.

Hari ini, aku tidak lagi melarikan diri dari senja.
Aku duduk bersamanya. Menangis bersamanya dan mencoba berdamai.

Dan kalau suatu hari aku bisa pergi sejauh kamu, aku harap kamu menjemputku di pantai yang sama, dengan mata yang berbinar dan tawa yang masih sama.  

R.U.N

 *not based on a true story

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Warna

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?

"Nak, Jadilah Dokter"