Tidak untuk Abadi

Hujan turun terlalu pelan hari itu, seperti tahu ada yang harus diperlambat agar bisa dikenang lebih lama. Langit menggantung rendah, seolah ikut merunduk pada dua hati yang saling tahu, tapi tak lagi bisa saling sapa.

Ada jeda yang terlalu panjang di antara langkah-langkah yang mulai menjauh. Tak ada kata yang diucap, tapi semuanya terasa terlalu riuh di kepala, semacam gema dari hal-hal yang tak pernah sempat disampaikan. Bukan karena tak ingin, tapi karena waktu selalu punya cara untuk membuat orang diam bahkan pada saat-saat yang paling penting.

Waktu pergi dengan langkah yang pasti, sedangkan aku tetap berdiri, mencoba membekukan waktu lewat ingatan. Ada hal-hal yang tak bisa dilawan, seperti musim yang berganti atau takdir yang tak berpihak.

Mereka bilang, cinta adalah perihal memiliki. Tapi tak satu pun dari semua ini terasa seperti milik. Hanya seperi lintasan, rasa itu hanya singgah sebentar, cukup lama untuk membuat hati percaya, tapi tak cukup kuat untuk tetap tinggal.

Sekarang, setiap tempat yang pernah kita lewati berubah jadi monumen kecil dari masa lalu. Bahkan bau hujan, suara sepatu menyentuh aspal, atau sore yang terlalu sunyi, semuanya jadi isyarat yang tak lagi punya nama, tapi terasa akrab.

Dan aku belajar,

Bahwa beberapa mereka memang tidak ditakdirkan untuk abadi.

Bukan karena kurangnya perasaan, tapi karena mereka datang memang bukan untuk tinggal.

Melainkan hanya untuk mengajarkan beberapa hal dan arti melepaskan tanpa kehilangan diri sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Warna

Tragedi Banjir Sumatra Bencana Alam atau Keteledoran Pemerintah?

"Nak, Jadilah Dokter"